Please Jangan Bilang Bunga Raflesia Adalah Bunga Bangkai

Tak jarang ketika saya di tanya berasal dari mana, pertanyaan ini muncul "apa yang khas dari Bengkulu de?" lalu dengan bangganya saya akan mengatakan "bunga Raflesia :)", lalu beberapa dari mereka akan berkata "ooh bunga bangkai...". Huaaaaaa... T_T bunga raflesia itu bukan bunga bangkai... Bunga Raflesia dan Bunga Bangkai adalah dua bunga yang berbeda. Lihat saja gambar di bawah ini:
Nah gimana, beda kan bunga bangkai dengan bunga raflesia? Bunga Raflesia banyak ditemui di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu, Ciri Khusus Bunga Raflesia yang membedakan dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Selain ciri-ciri umum, ada ciri khas yang membedakan bunga bangkai dengan Raflesia. Berikut ciri khas dari masing-masing bunga yang saya dapat dari sini dan sini.

Ciri Khas Bunga Raflesia
  • Bunga Raflesia (Rafflesia arnoldi) merupakan tumbuhan dari Famili: Rafflesiaceae
  • Bunga Raflesia merupakan tumbuhan parasit obligat.
  • Bunga Raflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun.
  • Bunga Raflesia memiliki 5 mahkota
  • Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat bunga sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga.
  • Keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan.
  • Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.
  • Rafflesia merupakan tumbuhan parasit obligat pada tumbuhan merambat (liana) tetrasigma dan tinggal di dalam akar tersebut seperti tali.
  • Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.
Ciri Khas Bunga Bangkai
  • Bunga bangkai / Amorphophallus adalah sekelompok tumbuhan dari genus Amorphophallus yang merupakan anggota dari famili dari Araceae (talas-talasan).
  • Bunga bangkai (Amorphophallus) merupakan spesies endemik, tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis mulai dari kawasan Afrika barat hingga ke Kepulauan Pasifik termasuk di Indonesia.
  • Bunga bangkai merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar dan tertinggi di dunia ini termasuk tanaman dari suku talas-talasan (araceae) dengan bentuk dan ukuran umbi yang bervariasi pada setiap jenisnya.
  • Bunga bangkai (Amorphophallus) mengalami dua fase dalam hidupnya yang berlangsung secara bergantian dan terus menerus, yakni fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif di atas umbi bunga bangkai tumbuh batang tunggal dan daun yang mirip daun pepaya. Hingga kemudian batang dan daun menjadi layu menyisakan umbi di dalam tanah.
  • Apabila kondisi memungkinkan, fase vegetatif akan disusul dengan fase generatif yakni munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang dan daun yang layu tadi. Kedua fase ini kan terjadi berulang dan terus menerus.
  • Saat bunga bangkai mengalami fase generatif (mekarnya bunga), bunga tertinggi ini mengeluarkan bau menyengat seperti bau bangkai. Bau busuk ini berfungsi sebagai pemikat bagi lalat dan kumbang yang mana serangga-serangga tersebut akan berkontribusi dalam proses penyerbukan. Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Dan bunga bangkai kemudian kembali memasuki fase vegetatif.
 Nah dah jelas kan beda antara keduanya, so.. please jangan bilang lagi kalo Bunga Raflesia adalah bunga bangkai... ^_^
 
sumber : http://annur35.blogspot.com/2012/09/please-jangan-bilang-bunga-raflesia.html

Bunga Rafflesia

Bunga Raflesia Arnoldi merupakan bunga terbesar di dunia, dan juga termasuk dalam kategori Langka. Bunga Raflesia ini terkenal dengan keunikanya, yaitu hanya merupakan miselium yang memparasit tumbuhan inang, tidak memiliki daun akan tetapi mampu menghasilkan bunga yang ukuranya sangat besar. Raflesia merupakan tumbuhan asli dari Indonesia yang mana hanya bisa di jumpai di daerah Kalimantan dan Sumatera.
Bunga Rafflesia Arnoldi
Bunga Rafflesia Arnoldi

Ciri-ciri Bunga Rafflesia Arnoldi

  • Bunganya berumah dua (Bunga jantan dan betina terpisah)
  • Diameternya mencapai 100cm
  • Warnanya merah dan memiliki permukaan yang kasar
  • Kuncup bunga memiliki ukuran ± 5 cm yang membutuhkan waktu sampai 9 bulan untuk mekar
  • Bunga Raflesia Arnoldi hanya memiliki masa mekar selama 4 hari
Setelah bunga di serbukan oleh serangga maka dibutuhkan waktu sekitar 7 bulan hingga menjadi buah. Buah bunga Rafflesia ini nantinya akan berisikan ribuan biji-bijian yang jumlahnya mencapai ribuan, ukuranya mencapai 0,5 mm. Bunga Rafflesia memiliki musim bunga yang sangat panjang, yaitu sepanjang tahun.

sumber : http://www.satwa.net/56/bunga-raflesia-arnoldi-bunga-terbesar-di-dunia.html

Please Jangan Bilang Bunga Raflesia Adalah Bunga Bangkai

Transport/rute Menuju Bukit Lawang

Misalkan anda sudah Berada di Sumatera Utara tepatnya di Bandara International Kualanamu Medan
Jarak Bukit Lawang dari kota Medan kurang lebih sekitar 85 KM.+ Bandara Kualanamu ke Medan sekitar 32 KM total jaraknya sekitar 117 KM
Transportasi
Versi Satu
Bila anda pergi dengan mobil rental . Jarak tempuh sekitar 3/4 jam dari Bandara Kualanamu Medan menuju Wisata Bukit Lawang. Dengan rental mobil anda akan lebih terasa nyaman, karena gak mesti kena scam atau dikejar-kejar guide euro hunter apalagi kalau kalian bawa bule/orang asing hehe. Harga mobil diatas menggunakan AC bisa juga kalau gk pakek AC xixixi. Jika kalian baru nyampe dari Airport, juga bisa sekaligus jemput. Itung-itungannya jauh lebih hemat sih kalau menurut saya, apalagi kalau 2 atau 3 orang yang mau pergi.
Versi Dua
Bila anda dengan Bus dengan waktu tempuh sekitar 6 - 7 jam hehe ( yaiyalah berenti-berentinya buanyaaak banget apalagi ampek nunggu-nunggu busnya berangkat)
Dari Bandara Kualanamu - anda bisa menuju bus ALS warna merah menuju Kota Binjai (terminal Bus ALS di Binjai), Bus akan berangkat setiap 2 jam sekali, untuk menuju ke Binjai akan memakan waktu 1 setengah - 2 jam perjalanan sesampai di Binjai anda naik BETOR (Becak Bermotor) menuju Terminal L300 Bukit Lawang jaraknya dari terminal ALS menuju terminal L300 Bukit lawang sekitar 3 KM kurang lebih 10-15 menit untuk sampai di sana.
dan anda tanya saja di terminal tersebut mau ke Bukit Lawang. dari terminal L300 Bukit Lawang di Binjai menuju Bukit Lawang sekitar memakan waktu 2/3 jam perjalanan. dan anda akan tiba di terminal Bukit Lawang. dan anda naik becak lagi menuju Bukit Lawang (langsung saja Kontak Kami bila anda ingin Kami bantu).
sampai deh di Bukit Lawan.

Goa Kelelawar

Goa Kelelawar biasa di sebut di bukit lawang adalah goa kampret, goa ini tersembunyi yang berada di areal perkebunan karet dan sawit masyarakat. Pasalnya, obyek wisata gua sepanjang kurang lebih 500 meter yang menarik dan seru ini memang menjadi tempat tinggal ribuan kampret atau kelelawar yang membuat sarangnya di langit-langit gua.

Dari pemandian Sungai Bahorok Bukit Lawang, gua ini berjarak kurang lebih 2 kilometer. Sebelum memasuki gua, di pintu masuk kita akan menemui gubuk tak berdinding yang atapnya dari rumbia. Di situ akan kita temui penjaga Pintu masuk goa.Pintu masuk gua adalah dua buah batu besar yang menyisakan celah seukuran badan orang dewasa. Ada tangga kayu dan akar-akar kayu yang membantu kita memanjat batu licin dan berlumut itu.

Selesai itu, kita masuk di pintu besar dengan ruangan yang luas penuh cahaya di celah-celah atapnya. Stalagtit dan stalagmit berukuran besar terlihat di sini dan cukup kering tanahnya. Beberapa batu mirip altar di temui.
Gua ini pernah menjadi tempat pemujaan dan persembunyian para gerilyawan. Masuk lebih dalam, mulai berkurang celah-celah udara dan cahaya, keadaan juga sudah mulai lembab dan basah. Air menetes dari langit-langit goa yang merupakan rembesan air tanah tapi tidak seperti hujan. Kondisi bebatuan juga mulai rapat dan gelap walau ada beberapa kali kita kembali menemuai ruangan yang luas.
Hawa dingin menyelusup, kondisi gua begitu menantang. Untuk kelas pemula dan anak-anak yang sedang belajar telusurr goa, tempat ini menjadi lokasi menarik untuk memacu andrenalin. Gelap, celah-celah kecil, merangkak, sedikit berfatamorgana dengan stalagtit dan stalagmit yang di kegelapan seperti manusia sedang berdiri, adalah keindahan. Sarang-sarang kelelawar dan kotorannya yang unik, juga bau yang sedikit mengganggu penciuman anda.
Setelah melewati celah batu, di lubang besar yang di atasnya pohon-pohon tinggi menjulang.. semakin ke dalam gua semakin basah dan sungai-sungai kecil mengalir di bawahnya. Kalau rajin mencari, di sungai-sungai kecil itu ada bebatuan kecil berukuran kelereng yang mengandung besi. Sampai di ujung gua, kita akan mendapati lebih banyak kelelawar dan kondisi semakin basah.

Tak ada jalur alternatif untuk kembali pulang dengan cepat selain kembali ke jalan pertama kali datang. Sebaiknya jika Anda ingin menyusuri gua ini, pakailah sepatu atau alas kaki yang tepat karena batu-batu yang menjadi pijakan saat berjalan cukup runcing dan tajam dan membawa penerangan seperti senter karena keadaan gua cukup gelap.
Maaf, jangan terlalu berisik karena akan mengganggu pendengaran kelelawar yang sangat peka dan sensitif dengan suara. Bisa-bisa, karena keributan kita mereka lalu panik kemudian terbang sembarangan dan menabrak kepala atau mata yang bisa menimbulkan luka.

Sumber : http://bukitlawanglocalguide.com/guakelawar.html

Tips Berwisata ke Bukit Lawang

Bukit Lawang adalah daerah Perbukitan yang memiliki Suhu udara rata-rata 21,1ºC – 27,5 ºC. Kelembaban nisbi 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Topografi kawasan, landai dan perbukitan dengan kemiringan bervariasi (45 – 90 %). Memiliki tipe ekosistem dataran rendah dan bergelombang, maka dari itu bila anda ingin melakukan aktifitas-aktifitas di Bukit Lawang sebaiknya anda sudah mempersiapkan segala sesuatunya seperti :
  1. Kaos T – Shirst dan celana Pendek untuk dipakai di siang hari seperti kegiatan jalan-jalan.
  2. Celana panjang, jeket hangat dan beberapa yang dapat menghangatkan tubuh untuk dimalam hari.
  3. Tas ransel kecil dan sepatu atau sandal yang nyaman di pakei untuk melakukan trekking dan telusur gua.
  4. Kamera (untuk cibi-cibi dan mengabadikan satwaliar di hutan)
  5.  Senter untuk kegiatan Menelusuri goa dan bermalam hari
  6.  obat nyamuk kegunaan untuk Trekking Hutan dan malam hari
  7. Pakaian untuk mandi-mandi di sungai dan handuk mandi dan handuk kecil untuk di hutan
  8. Jas Hujan, Pelasti untuk barang-barang pribadi anda dan mantel tas ransel anda bila ada.
  9. P3K dan obat pribadi.
Mungkin itu beberapa tips untuk melakukan aktifitas-aktifitas di Bukit Lawang dan satu lagi bawahlah uang secukupnya karena di Bukit Lawang tidak terdapat ATM, ada pun ATM jaraknya 10 KM dari Bukit Lawang.
sumber : http://bukitlawanglocalguide.com/tipsberwisatadibukitlawang.html

Kenali Orangutan Lebih Dekat di Bukit Lawang (TNGL)


Orangutan bukanlah monyet, melainkan kera (APE). Lebih tepatnya: kera besar (great ape)
Orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. 90 % hidup di Indonesia dan 10 % hidup di Malaysia.
Hanya ada dua species orangutan di dunia, yaitu orangutan Sumatra/Bukit Lawang (pongo abelii) dan orangutan Borneo (pongo pygmaeus).
Habitat asli orangutan adalah hutan dataran rendah (dibawah 900 mdpl/meter diatas permukaan air laut)
Angka populasi orangutan terus menurun drastis diakibatkan hilangnya habitat secara terus menerus.
Hilangnya habitat orangutan sebagian besar disebabkan oleh pembukaan hutan untuk perkebunan, pembakaran hutan dan pembalakan liar.
Seperti manusia dan juga species kera besar lainnya (chimpanzee, gorilla dan bonobo), orangutan tidak memiliki ekor.
Perdagangan satwa liar juga menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi orangutan. Induknya dibunuh,, anaknya diperjual belikan.
Kebun binatang bukanlah tempat tinggal yang baik untuk orangutan, tetapi itu adalah salah satu langkah untuk pelestarian orangutan.

Jadi teman-teman, jika kalian ingin orangutan tetap lestari dan tidak punah marilah kita bersama-sama melakukan sesuatu.
Mungkin kalian tidak bisa mendonasikan dana yang besar untuk biaya konservasi atau sekolah untuk orangutan, tapi kalian bias membantu melestarikan orangutan dengan:

1. Jangan memberi MAKANAN atau MINUMAN pada orangutan saat kalian berkunjung pada kebun binatang yang memelihara orangutan. “KASIHAN” adalah alasan yang sangat masuk akal untuk seorang pengunjung dapat memberi makanan dan minuman pada orangutan. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena orangutan sudah punya pawing yang akan memberinya makan di jam yang sudah ditentukan dan pastinya sesuai dengan prosedur dan dengan mempertimbangkan gizi yang terkandung dalam makanann yang diberikan pada orangutan.
2. Jangan melempari sesuatu apapun kedalam kandang orangutan. Seperti: sampah ataupun ROKOK!!
3. Bayi Orangutan memang lucu dan menggemaskan, tapi jelas bayi orangutan bukanlah MAINAN juga bukan BINATANG PELIHARAAN yang bisa kita gendong-gendong dan kita ajak bermain. Bayi orangutan hanya bisa diajak bermain di tempat sekolah orangutan atau konservasi, karena itu adalah salah satu cara untuk memberikan kasih sayang. Yaitu bermain dengan ibu asuh yang berperan sebagai pengganti induknya.

Sejarah Bukit Lawang

Arti kata Bukit Lawang secara harfiah berarti "pintu ke bukit"Bukit Lawang adalah sebuah desa kecil yang terletak 90 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara, Indonesia. Bukit Lawang yang paling terkenal karena menjadi salah satu tempat terakhir di dunia di mana orang dapat melihat orang hutan di alam liar. Bukit Lawang terletak di sisi timur Taman Nasional Gunung Leuser.Pada tahun 1973 sebuah organisasi Swiss mendirikan pusat rehabilitasi orangutan di Bukit Lawang. Tujuan pusat ini adalah untuk merehabilitasi orang hutan yang dilepaskan dari penangkaran. Para penjaga di pusat mengajarkan orang hutan semua keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup di alam liar. Setelah periode intens karantina, penyesuaian kembali ke habitat alami dan reintegrasi dalam populasi (semi-) liar, orangutan dilepaskan kembali ke hutan. Semua orangutan dirilis masih dipantau oleh jagawana dan mereka masih memberi mereka makanan tambahan pada platform makan sampai mereka menjadi sepenuhnya mandiri.Pada tahun-tahun setelah kedatangan pusat rehabilitasi lebih banyak wisatawan yang datang ke Bukit Lawang dan itu menjadi salah satu tujuan paling populer di Sumatera. Sebuah banjir bandang melanda Bukit Lawang pada tanggal 2 November 2003. Dijelaskan oleh saksi sebagai gelombang pasang surut, dengan tinggi air adalah sekitar 20 meter, yang menyebabkan perbukitan menjadi longsor, menghapus segala sesuatu di jalan. Bencana, yang merupakan hasil dari pembalakan liar, menghancurkan tempat wisata lokal dan memiliki dampak bagi industri pariwisata lokal. Sekitar 400 rumah, 3 masjid, 8 jembatan, 280 kios dan warung makan, 35 hotel dan guest house dihancurkan oleh banjir, dan 239 orang (5 dari mereka wisatawan) tewas dan sekitar 1.400 penduduk setempat kehilangan rumah. stelah delapan bulan  mereka melaukan pembangunan kembali, Bukit Lawang itu kembali dibuka lagi pada bulan Juli 2004. Banyak penduduk desa menjadi trauma, kehilangan keluarga, teman dan rumah mereka. Banyak Orang-orang yang tinggal di Bukit Lawang menajdi pengangguran dan tunawisma. Ini telah menjadi jalan panjang untuk pemulihan dan tugas yang sangat sulit untuk membangun kembali kota dengan hanya bantuan keuangan yang terbatas dari pemerintah. Namun orang-orang di Bukit Lawang yang menjadi korban dengan membangun kembali desa yang telah hancur dan memulai kambali bisnis merek.Terutama generasi muda, agar dapat membangun kembali desa secara berkelanjutan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga pelestarian eko sistem ​ ​yang ada ditempat tinggal mereka, Mereka dapat memanfaatkan semua dukungan, mereka juga bisa mendapatkan pendapatan pariwisata yang akan membantu mereka dalam mewujudkan ide-ide mereka untuk masa depan yang cerah bagi Bukit Lawang.
 
sumber :http://melayu-langkat.blogspot.com/p/sejarah-bukit-lawang-secara-harfiah.html

Putri Belanda Kelola Rumah Manis Di Bukit Lawang

gbr
Putri Belanda  Kelola Rumah Manis Di Bukit Lawang
Tragedi banjir bandang Bukit lawang , Bahorok Kabupaten Langkat,  Nopember 2003 merupakan bencana yang memilukan dan menjadi perhatian masyarakat dunia internasional. Diantara beragam kisah mulai dari seputar perumahan korban bencana dan masa depannya, hanya sedikit yang memperhatikan bagaimana tentang pendidikan bagi sejumlah anak-anak dari keluarga korban bencana tersebut. Pada hal semua umat berkeyakinan bahwa anak adalah amanah dan bukan beban bagi orangtua dan masyarakat
Anak-anak harus dibantu mencapai hari esoknya yang lebih baik dengan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, begitu pendapat Saskia Landman  seorang perempuan dari negeri Belanda selaku pengelola Rumah Manis Yayasan Anak-anak Bukitlawang di kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat.
Menurut Saskia didampingi suaminya Sugiarto,41 mantan guide dikawasan wisata Bukitlawang yang telah menikah sebagai pasangan suami-isteri sejak Agustus 2006  tersebut, rumah manis yang mereka maksudkan  sebagai panti asuhan bagi anak-anak yatim dan anak-anak yang kurang mampu dalam bidang pendidikan yang mereka kelola melalui Yayasan Anak-anak Bukitlawang dan secara resmi dibuka sejak 13  Februari 2009.
Kini tercatat 48 anak berada dalam asuhan mereka, sebahagian besar masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama. Biaya sekolah mereka bantu dan sebahagian diantaranya menetap di rumah manis tersebut, selainnya ada yang pulang kerumah orang tuanya masing-masing. Tetapi usai sekolah mereka tetap berada di rumah manis untuk mendapatkan bimbingan belajar seperti Bahasa Inggris, komputer dan seni keterampilan kerajinan tangan yang kesemuanya tanpa dipungut bayaran.
gbr
Lokasi rumah manis seluas satu hektar yang mereka bangun sejak pertengahan tahun 2007 itu berada di tengah-tengah areal perkebunan rambung milik masyarakat di seberang sungai Bukitlawang, Untuk datang menuju  lokasi, harus menyeberangi sungai dengan jembatan darurat persis menuju arah lokasi Gua Kampret Bukitlawang. Tempatnya nyaman dan asri sehingga anak-anak dapat belajar dengan suasana yang tenang dan alami ketika berada dalam bangunan permanen yang kelihatan megah itu.
Fasilitas pendukung cukup memadai dengan ruang tidur, ruang belajar, perpustakaan serta ruang komputer yang 10 unit diantaranya dapat terhubung  secara online melalui internet. Sekarang di Bukitlawang, disinilah satu-satunya yang menyediakan  fasilitas internet, karenanya banyak diantara wisatawan asing yang datang mengunjungi rumah manis tersebut.Tentunya selain memanfaatkan sarana komunikasi melalui internet, para wisatawan asing juga dapat membeli sejumlah souvenir hasil kerajinan anak-anak di pondok rumah manis tersebut.
Saskia Landman perempuan dari Negeri Belanda menuturkan , sejak mendengar kabar tentang bencana Bukitlawang tersebut, dia sangat berniat untuk datang mengunjungi Bukitlawang,ia guna melihat kondisinya secara langsung.
Akhirnya keinginan Saskia kelahiran November 1963 ,  putri pertama dari tiga bersaudara  keluarga  Landman yang bermukim di Alkmaar sekitar 30 Km  di utara Amsterdam, Nederland menjejakkan kakinya ke Bukitlawang , Agustus 2005.
Walau waktu hanya tiga hari di Bukitlawang, Saskia berkenalan dengan seorang pemuda setempat, namanya Sugianto . Sepulangnya  kenegerinya, mereka berdua kerap menjalin komunikasi melalui telpon ataupun sms-an. Selang tiga bulan kemudian, Sugianto  datang ke Nederland guna menemui buah hatinya, setelah ada kecocokan akhirnya Sugianto mempersunting Saskia sebagai isterinya, keduanya sempat menetap di negeri kincir angin itu selama 17 bulan.
Pertengahan tahun 2007, Sugianto memboyong isterinya ketanah air dan menetap di Bukitlawang. Hari-hari mereka luangkan waktu bersama sejumlah anak-anak di Bukitlawang, mereka memperkerjakan sejumlah guru honor dan tentunya ikut beternak kambing dan ayam .
Sebelumnya Saskia yang dinegerinya bekerja sebagai guru sekolah dasar memiliki hoby mengasuh anak-anak. Karena itulah guna menyalurkan hobynya ,  putri dari Belanda itu pernah menetap mengasuh anak-anak selama satu tahun di Afrika, lima minggu di Nepal, lima minggu di Guatemala dan 5 minggu bergaul sambil membantu sejumlah anak yatim pada salah satu panti asuhan di Bekasi,IndonesiaBegitulah perjalanan hidup seorang perempuan dari Belanda ini, sepulangnya dari Bekasi dia meluangkan waktu untuk mampir di Bukitlawang, tak ada yang menduga rupa-rupanya Saskia berjodoh di sini. (Ibnu Kasir)

sumber : http://www.langkatonline.com/budaya_putri.php

Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia seluas 1.094.692 Hektar yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Provinsi Aceh yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya,Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo dan Langkat.
Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut di Aceh. Taman nasional ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,pariwisata, dan rekreasi.
Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu : a. perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Secara yuridis formal keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser untuk pertama kali dituangkan dalam Pengumuman Menteri Pertanian Nomor: 811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 6 Maret 1980 tentang peresmian 5 (lima) Taman Nasional di Indonesia, yaitu; TN.Gunung Leuser, TN. Ujung Kulon, TN. Gede Pangrango, TN. Baluran, dan TN. Komodo. Berdasarkan Pengumuman Menteri Pertanian tersebut, ditunjuk luas TN. Gunung Leuser adalah 792.675 ha. Pengumuman Menteri Pertanian tersebut ditindaklanjuti dengan Surat Direktorat Jenderal Kehutanan Nomor: 719/Dj/VII/1/80, tanggal 7 Maret 1980 yang ditujukan kepada Sub Balai KPA Gunung Leuser. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa diberikannya status kewenangan pengelolaan TN. Gunung Leuser kepada Sub Balai KPA Gunung Leuser.
Diterimanya Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera ke daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 2004, membuat Taman Nasional Gunung Leuser juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, bersama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Sebagai dasar legalitas dalam rangkaian proses pengukuhan kawasan hutan telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kehutanan nomor: 276/Kpts-II/1997 tentang Penunjukan TN. Gunung Leuser seluas 1.094.692 hektaree yang terletak di Provinsi daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Utara. Dalam keputusan tersebut disebutkan bahwa TN. Gunung Leuser terdiri dari gabungan:
  1. Suaka Margasatwa Gunung Leuser  : 416.500 hektaree
  2. Suaka Margasatwa Kluet  : 20.000 hektaree
  3. Suaka Margasatwa Langkat Barat  : 51.000 hektaree
  4. Suaka Margasatwa Langkat Selatan  : 82.985 hektaree
  5. Suaka Margasatwa Sekundur  : 60.600 hektaree
  6. Suaka Margasatwa Kappi  : 142.800 hektaree
  7. Taman Wisata Gurah  : 9.200 hektaree
  8. Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas  : 292.707 hektaree
Sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.03/Menhut-II/2007, Saat ini pengelola TNGL adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA)Departemen Kehutanan yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang dipimpin oleh Kepala Balai Besar (setingkat eselon II).
Salah satu Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang terkenal di dalam kawasan TNGL adalah Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera - Bukit Lawang di Kawasan Wisata Alam Bukit Lawang - Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Sisi lain, taman nasional ini juga mendapat perhatian karena maraknya kasus penebangan pohon illegal di beberapa lokasi yang menyalahi reservasi lingkungan.
Sebagian besar kawasan TNGL memiliki topografi yang curam dan struktur dan tekstur tanah yang rentan terhadap longsor. Hal ini terbukti pada saat banjir bandang yang menghancurkan kawasan wisata alam Bukit Lawang beberapa tahun lalu. Untuk lebih menjaga TNGL dari kerusakan yang lebih parah maka dibentuklah suatu kawasan yang disebut Kawasan Ekosistem Leuser. Kawasan yang memiliki luas 2,6 juta hektare ini meliputi area yang lebih datar di sekeliling TNGL dan berfungsi sebagai penyangga (buffer).

Fauna


Orangutan sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser
Di taman nasional ini terdapat 130 jenis mamalia,[1] di antaranya orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii), sarudung (Hylobates lar), siamang (Hylobates syndactilus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestriana) dan kedih (Presbytis thomasi). Satwa karnivora di antaranya: macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus), harimau sumatera (Phantera tigris Sumatraensis). Satwa herbivora yang ada di taman nasional ini adalah gajah sumatera (Elephas maximus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatraensis), dan rusa sambar (Cervus unicolor).[1]
Diperkirakan ada sekitar 89 spesies langka dan dilindungi berada di Taman Nasional Gunung Leuser, di antaranya:
  • Orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii)
  • Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
  • Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae)
  • Gajah sumatera (Elephas maximus)
  • Beruang madu (Helarctos malayanus)
  • Rangkong papan (Buceros bicornis)
  • Ajag (Cuon Alpinus)
  • Siamang (Hylobates syndactylus).[1]
Diperkirakan ada sekitar 325 jenis burung di Taman Nasional Gunung Leuser[1], di antaranya: rangkong badak (Buceros rhinoceros). Fauna reptilia dan amphibia didominasi ular berbisa dan buaya (Crocodillus sp). Di sini terdapat ikan jurung (Tor sp), ikan endemik Sungai Alas yang bisa mencapai panjang 1 meter. Di sini juga terdapat kupu-kupu.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung_Leuser

Orangutan Sumatra

Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang terletak di Indonesia. Mereka lebih kecil daripada orangutan Kalimantan. Orangutan Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan berat 200 pon. Betina lebih kecil, dengan tinggi 3 kaki dan berat 100 pon.

Perilaku


Orangutan Sumatra di Bukit Lawang
Dibandingkan Orangutan Kalimantan, orangutan Sumatra lebih menyukai pakan buah-buahan dan terutama juga serangga.[2] Buah yang disukai termasuk buah beringin dan nangka. Mereka juga makan telur burung dan vertebrata kecil.[3] Orangutan Sumatra lebih singkat dalam makan di batang dalam suatu pohon.
Orangutan Sumatra liar di rawa Suaq Balimbing diamati menggunakan alat.[4] Seekor orangutan mematahkan cabang pohon yang panjangnya sekitar satu kaki, menyingkirkan ranting-rantingnya dan mengasah ujungnya. Lalu ia menggunakan batang itu untuk mencungkil lubang pohon untuk mencari rayap. Mereka juga menggunakan batang itu untuk memukul-mukul dinding sarang lebah. Selain itu, orangutan juga menggunakan alat untuk makan buah. Saat buah pohon Neesia matang, buah itu keras, kulit yang bergerigi melunak hingga ia jatuh terbuka. Di dalamnya ada biji yang disukai orangutan, namun mereka diselimuti rambut yang mirip serat kaca yang sakit bila termakan. Orangutan pemakan Neesia akan memilih batang lima inci, mengulitinya dan kemudian menghilangkan bulu-bulu itu dengannya. Bila buah itu sudah bersih, kera itu akan makan bijinya menggunakan batang itu atau jemarinya. Meskipun rawa yang serupa ada di Kalimantan, orangutan Kalimantan liar belum dilihat menggunakan alat macam ini.
NHNZ memfilemkan orangutan Sumatra untuk acaranya Wild Asia: In the Realm of the Red Ape; acara itu mempertunjukkan salah satu orangutan menggunakan peralatan sederhana, ranting, untuk menjangkau makanan dari tempat yang sulit. Ada juga serangkaian gambar seekor binatang menggunakan daun besar sebagai payung saat terjadi hujan badai tropis
Orangutan Sumatra juga lebih suka diam di pohon daripada sepupunya dari Kalimantan; hal ini mungkin karena adanya pemangsa seperti harimau Sumatra. Mereka bergerak dari pohon ke pohon bergelantungan menggunakan lengannya.

Daur hidup

Orangutan Sumatra lebih sosial daripada orangutan Kalimantan. Orangutan-orangutan ini berkumpul untuk makan sejumlah besar buah di pohon beringin. Akan tetapi, orangutan jantan dewasa umumnya menghindari kontak dengan jantan dewasa lain. Pemerkosaan umum terjadi di antara orangutan. Jantan sub-dewasa akan mencoba kawin dengan betina manapun, meskipun mungkin mereka gagal menghamilinya karena betina dewasa dengan mudah menolaknya. Orangutan betina dewasa lebih memilih kawin dengan jantan dewasa
Rerata jangka waktu kelahiran orangutan Sumatra lebih lama daripada orangutan Kalimantan dan merupakan rerata jangka waktu terlama di antara kera besar. Orangutan Sumatra melahirkan saat mereka berumur sekitar 15 tahun. Bayi orangutan akan dekat dengan induknya hingga tiga tahun. Bahkan setelah itu, anaknya masih akan berhubungan dengan induknya. Kedua spesies orangutan mungkin hidup beberapa dekade; perkiraan panjang umurnya dapat melebihi 50 tahun. Rata-rata perkembangbiakan pertama P. abelii adalah sekitar 12,3 tahun tanpa ada tanda menopause.[2]

Status


Seekor orangutan Sumatra sedang dirawat di Bukit Lawang.
Orangutan Sumatra endemik dari pulau Sumatra dan hidupnya terbatas di bagian utara pulau itu. Di alam, orangutan Sumatra bertahan di provinsi Aceh (NAD), ujung paling utara Sumatra.[5] Primata ini dulu tersebar lebih luas, saat mereka ditemukan lebih ke Selatan tahun 1800-an seperti di Jambi dan Padang.[6] Ada populasi kecil di provinsi Sumatera Utara sepanjang perbatasan dengan NAD, terutama di hutan-hutan danau Toba. Survei di danau Toba hanya menemukan dua areal habitat, Bukit Lawang (didefinisikan sebagai suaka margasatwa) dan Taman Nasional Gunung Leuser.[7] Tahun 2002, World Conservation Union menempatkan spesies ini dalam IUCN Red List dengan status kritis.
Survei baru-baru ini tahun 2004 memperkirakan ada sekitar 7.300 ekor orangutan Sumatra yang masih hidup di alam liar.[5] Beberapa di antaranya dilindungi di lima daerah di Taman Nasional Gunung Leuser dan lainnya hidup di daerah yang tidak terlindungi: blok Aceh barat laut dan timur laut, sungai Batang Toru Barat, Sarulla Timur dan Sidiangkat. Program pembiakan telah dibuat di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di provinsi Jambi dan Riau dan menghasilkan populasi orangutan Sumatra yang baru.
Di kurungan, ada lebih banyak kebun binatang dan taman satwa di luar habitat alami yang tertarik pada orangutan secara umum. Orangutan Sumatra tertua adalah Ah Meng yang lahir pada tahun 1960.[8] Nonja, yang dianggap yang tertua di kandang atau di alam saat kematiannya, mati di Miami MetroZoo pada umur 55.[9]

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Orangutan_sumatera

Bukit Lawang

Wisata alam Bukit Lawang menjadi tujuan wisata andalan di Leuser dikarenakan memiliki daya tarik satwa langka Orangutan Sumatra semi liar dan panorama hutan hujan tropis. Bukit Lawang atau lebih dikenal sebagai pusat pengamatan Orangutan Sumatra memiliki luas 200 ha, berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara. Dulunya Bukit Lawang merupakan pusat rehabilitasi Orangutan jinak untuk dilepasliarkan kembali ke alam. Sejarah keberadaan Pusat Rehabilitasi Orangutan di Bukit Lawang berawal dari program yang dijalankan oleh WWF dan Frankfurd Zoological Society pada tahun 1973.
Saat itu sebagai perintis yaitu Regina Frey dan Monica Borner melihat bahwa Kondisi dan Situasi Bukit Lawang sesuai untuk dijadikan Pusat Rehabilitasi Orangutan. Pada awalnya Pusat Rehabilitasi ini hanya dikunjungi oleh para peneliti maupun konservasionis. Pada perkembangannya kemudian, daerah ini berkembang menjadi Pusat Pengamatan Orangutan Sumatra (Viewing Centre) dan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Sumatera Utara yang ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara. Tercatat sejak tahun 1972 hingga 2001, Bukit Lawang merupakan tempat rehabilitasi Orangutan. Dalam kurun waktu ini, 229 Orangutan bekas peliharaan yang disita dari perdagangan satwa sudah direhabilitasi di lokasi ini. Bukit Lawang hingga kini diakui sebagai pintu gerbang terbaik untuk menikmati keindahan Taman Nasional Gunung Leuser yang mempesona. Walaupun bukan lagi sebagai tempat rehabilitasi dan pelepasliaran Orangutan, hutan di sekitar kawasan Bukit Lawang masih menyisakan peluang untuk dilakukannya aktivitas wisata dan pengamatan Orangutan Sumatra dan juga spesies tumbuhan dan satwa lainnya.
Bukit lawang merupakan gerbang utama untuk menikmati keindahan Leuser. Untuk mencapai Bukit Lawang, dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari kota Medan (ibukota Propinsi Sumatera Utara) melewati kota Binjai dengan kendaraan umum melalui terminal bus Pinang Baris Medan atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan jarak sekitar 80 km. Kondisi jalan menuju kawasan Bukit Lawang sangat baik dan telah diaspal. Untuk fasilitas wisata, terdapat
Pondok-pondok wisata bernuansa alami dengan tarif bervariasi antara Rp. 100.000 s/d Rp. 500.000 per malam. Fasilitas wisata lainnya yang tersedia berupa restoran/rumah makan, areal camping ground, viewing centre, information corner, visitor centre, terminal, pintu gerbang kawasan, jalan setapak/trail, papan informasi, feeding site dan sampan penyeberangan menuju kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan ini telah menjadi daerah tujuan wisata hutan hujan tropis yang cukup dikenal di mancanegara.
Pada hari minggu dan hari libur, sangat ramai dikunjungi wisatawan domestik yang datang dari berbagai daerah. Suhu udara rata-rata 21,1ºC – 27,5 ºC. Kelembaban nisbi 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Topografi kawasan, landai dan perbukitan dengan kemiringan bervariasi (45 – 90 %). Memiliki tipe ekosistem dataran rendah dan bergelombang.
Di Bukit Lawang dapat dijumpai beberapa jenis tumbuhan dan satwa seperti kantong semar, meranti, keruing, damar laut, anggrek hutan, rafflessia, bunga bangkai, cendawan harimau, anekaragam kupu-kupu, orangutan, siamang, kedih, beruang madu, kambing hutan dan lainnya yang merupakan khas hutan hujan tropis.
Mata pencaharian masyarakat di Bukit Lawang umumnya adalah petani dan pedagang. Budaya di Bukit Lawang heterogen, tidak ada yang dominan antara suku Melayu, Karo, Jawa dan Batak.
Panorama alam yang indah dengan sungai yang jernih serta keberadaan Orangutan Sumatra menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan berupa melihat satwa langka Orangutan Sumatra di feeding site, mengarungi jeram sungai Bohorok dengan ban (tubbing) dan rubber boat, menikmati keindahan air terjun, menjalajah gua, menyegarkan badan dengan mandi di sungai yang jernih, berkemah di areal camping ground, berpetualang dan menyingkap rahasia hutan hujan tropis sumatera, mengamati atraksi satwa, menyaksikan atraksi budaya masyarakat yang beragam dan menikmati kuliner khas lokal.
Di Bukit Lawang banyak tersedia para pemandu wisata lokal berpengalaman, bagi pengunjung yang membutuhkan pemandu selama melakukan petualangan di Taman Nasional Gunung Leuser dapat menghubungi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang. HPI dan juga pondok-pondok penginapan di Bukit Lawang menyediakan pilihan paket-paket wisata yang menarik dengan harga terjangkau.
Sumber: http://gunungleuser.or.id/bukit-lawang-92/