Goa Kelelawar

Goa Kelelawar biasa di sebut di bukit lawang adalah goa kampret, goa ini tersembunyi yang berada di areal perkebunan karet dan sawit masyarakat. Pasalnya, obyek wisata gua sepanjang kurang lebih 500 meter yang menarik dan seru ini memang menjadi tempat tinggal ribuan kampret atau kelelawar yang membuat sarangnya di langit-langit gua.

Dari pemandian Sungai Bahorok Bukit Lawang, gua ini berjarak kurang lebih 2 kilometer. Sebelum memasuki gua, di pintu masuk kita akan menemui gubuk tak berdinding yang atapnya dari rumbia. Di situ akan kita temui penjaga Pintu masuk goa.Pintu masuk gua adalah dua buah batu besar yang menyisakan celah seukuran badan orang dewasa. Ada tangga kayu dan akar-akar kayu yang membantu kita memanjat batu licin dan berlumut itu.

Selesai itu, kita masuk di pintu besar dengan ruangan yang luas penuh cahaya di celah-celah atapnya. Stalagtit dan stalagmit berukuran besar terlihat di sini dan cukup kering tanahnya. Beberapa batu mirip altar di temui.
Gua ini pernah menjadi tempat pemujaan dan persembunyian para gerilyawan. Masuk lebih dalam, mulai berkurang celah-celah udara dan cahaya, keadaan juga sudah mulai lembab dan basah. Air menetes dari langit-langit goa yang merupakan rembesan air tanah tapi tidak seperti hujan. Kondisi bebatuan juga mulai rapat dan gelap walau ada beberapa kali kita kembali menemuai ruangan yang luas.
Hawa dingin menyelusup, kondisi gua begitu menantang. Untuk kelas pemula dan anak-anak yang sedang belajar telusurr goa, tempat ini menjadi lokasi menarik untuk memacu andrenalin. Gelap, celah-celah kecil, merangkak, sedikit berfatamorgana dengan stalagtit dan stalagmit yang di kegelapan seperti manusia sedang berdiri, adalah keindahan. Sarang-sarang kelelawar dan kotorannya yang unik, juga bau yang sedikit mengganggu penciuman anda.
Setelah melewati celah batu, di lubang besar yang di atasnya pohon-pohon tinggi menjulang.. semakin ke dalam gua semakin basah dan sungai-sungai kecil mengalir di bawahnya. Kalau rajin mencari, di sungai-sungai kecil itu ada bebatuan kecil berukuran kelereng yang mengandung besi. Sampai di ujung gua, kita akan mendapati lebih banyak kelelawar dan kondisi semakin basah.

Tak ada jalur alternatif untuk kembali pulang dengan cepat selain kembali ke jalan pertama kali datang. Sebaiknya jika Anda ingin menyusuri gua ini, pakailah sepatu atau alas kaki yang tepat karena batu-batu yang menjadi pijakan saat berjalan cukup runcing dan tajam dan membawa penerangan seperti senter karena keadaan gua cukup gelap.
Maaf, jangan terlalu berisik karena akan mengganggu pendengaran kelelawar yang sangat peka dan sensitif dengan suara. Bisa-bisa, karena keributan kita mereka lalu panik kemudian terbang sembarangan dan menabrak kepala atau mata yang bisa menimbulkan luka.

Sumber : http://bukitlawanglocalguide.com/guakelawar.html

No comments:

Post a Comment